Hal tersebut dituangkan dalam penandatanganan Kesepakatan Bersama yang dilakukan oleh Kepala BPPT, Direktur Teknologi dan Produksi PT LEN Industri, serta Direktur Teknologi dan Pengembangan PT DI, di BPPT (29/4).
“Penandatanganan naskah MoU hari ini
merupakan tindak lanjut dari demo terbang Puna Oktober 2012 lalu di
Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma. Setelah pengujian dinilai berhasil,
kemudian sesuai dengan arahan Menteri Pertahanan dilakukan persiapan
produksi. Jika produksi Puna ini berhasil dibentuk menjadi salah satu
skuadron dari TNI AU, maka ini akan menjadi skuadron pertama Puna yang
merupakan hasil karya anak bangsa,” ungkap Kepala BPPT, Marzan A
Iskandar.
Bersatunya tiga stakeholder
yang berkepentingan dalam pengembangan Puna, yaitu BPPT, PT DI dan PT
Len Industri dinilai Marzan sebagai wujud nyata penerapan sistem inovasi
untuk mendukung penerapan inovasi teknologi hingga tahap digunakan oleh
end user.
Direktur Teknologi dan Pengembangan PT
DI, Andi Alisjahbana pun menekankan bahwa kerjasama tersebut merupakan
penajaman peran dari masing-masing institusi. BPPT, yang merupakan
lembaga pemerintah bertugas untuk mengkaji, menerapkan dan meneliti
teknologi. Sementara PT DI sebagai industri bertugas untuk mengembangkan
teknologi yang telah dihasilkan BPPT untuk diindustrikan sehingga siap
digunakan oleh masyarakat.
Sementara itu berbicara mengenai
teknologi elektronik dan komunikasinya, Direktur Teknologi dan Produksi
PT Len Industri, Darman Mappangara mengatakan pihaknya dalam
pengembangan Puna Wulung kali ini karena ditujukan untuk misi surveilance, maka teknologi yang tepat digunakan adalah electro optical surveilance, on board system untuk flight control dan ground station. “Selain itu juga ada sebuah sistem komunikasi yang berfungsi untuk menerima secara real time hasil pantauan Puna yang sedang bertugas,” ungkapnya.
Ke depannya, Darma menegaskan kalau
teknologi elektronik dan komunikasi yang akan dikembangkan disesuaikan
dengan kebutuhan dari Puna itu sendiri. Dengan semakin berkembangnya
kebutuhan Puna baik untuk misi penyusupan maupun pertahanan tentu akan
semakin berkembang pula teknologi yang berbeda yang dibutuhkan baik dari
sisi elektroniknya maupun dari sisi teknologi lainnya. “Kerjasama ini
penting dalam rangka percepatan penguasaan teknologi pertahanan,”
terangnya.
Selanjutnya disampaikan Kepala BPPT
bahwa kerjasama dengan PT DI dan PT Len Industri ini juga akan diperluas
dalam bidang lain diantaranya yaitu bidang teknologi kedirgantaraan,
hankam dan energi. “Harapannya semoga kerjasama ini dapat segera
direalisasikan dan menjadi contoh nyata bagaimana perlunya sinergi
antara berbagai stakeholder agar inovasi teknologi yang telah dihasilkan
dapat dimanfaatkan oleh pengguna atau masyarakat,” tutupnya.
Puna Wulung
Puna Wulung menggunakan mesin 2 tak.
Untuk memperoleh tenaga yang optimal, bahan bakar yang digunakan dipilih
dari jenis pertamax. Bahan material pesawat ini terbuat dari bahan
komposit (komposisi serat kaca, fiber, karbon), sehingga menghasilkan
struktur pesawat yang ringan.
PUNA mampu terbang selama 4 jam tanpa
henti. Jarak tempuh yang maksimalnya 70 km, dengan kecepatan jelajah 52
hingga 69 knot. Puna Wulung bisa dikendalikan dari jarak 73 km dengan
menggunakan kendali jarak jauh (remote control). (SYRA/humas)
Komentar
Posting Komentar